Dalam setiap hubungan, pertengkaran adalah hal yang wajar. Dua individu dengan latar belakang, cara berpikir, dan kebiasaan berbeda tentu tidak selalu sejalan. Namun, yang menentukan kualitas hubungan bukanlah seberapa sering bertengkar, melainkan bagaimana cara mengelola emosi saat konflik terjadi.
Emosi yang tidak terkendali dapat melukai, meninggalkan luka batin, bahkan merusak kepercayaan. Sebaliknya, emosi yang dikelola dengan baik justru dapat memperkuat hubungan.
Mengapa Emosi Mudah Meledak Saat Bertengkar?
Ketika bertengkar dengan pasangan, biasanya yang muncul bukan hanya rasa marah. Ada rasa kecewa, takut tidak dipahami, merasa tidak dihargai, atau bahkan takut kehilangan. Emosi-emosi ini bercampur menjadi reaksi spontan.
Karena pasangan adalah orang yang paling dekat dengan kita, perkataannya bisa terasa lebih menyentuh hati—baik dalam arti positif maupun negatif. Itulah mengapa pengendalian diri menjadi sangat penting.
Cara Mengelola Emosi Saat Bertengkar
- Beri Jeda Sebelum Merespons
Saat emosi memuncak, hindari langsung membalas dengan nada tinggi. Ambil waktu beberapa menit untuk menenangkan diri. Tarik napas dalam-dalam, minum air, atau menjauh sejenak dari situasi.
Respons yang tertunda sering kali lebih bijaksana dibanding reaksi spontan.
- Fokus pada Masalah, Bukan Menyerang Pribadi
Kalimat seperti:
- “Kamu selalu begini!”
- “Memang dasarnya kamu egois!”
hanya akan memperbesar konflik.
Gantilah dengan kalimat yang lebih sehat, seperti:
- “Aku merasa sedih ketika hal ini terjadi.”
- “Aku ingin kita bisa mencari solusi bersama.”
Menggunakan sudut pandang “aku” membantu mengurangi kesan menyalahkan.
- Kendalikan Nada dan Bahasa Tubuh
Sering kali bukan isi kata yang menyakitkan, melainkan cara penyampaiannya. Nada tinggi, tatapan sinis, atau gestur agresif dapat memperburuk suasana.
Berbicara dengan tenang menunjukkan bahwa kita ingin menyelesaikan masalah, bukan memenangkan perdebatan.
- Jangan Mengungkit Masa Lalu
Kesalahan lama yang sudah selesai tidak perlu dibawa kembali. Mengungkit masa lalu hanya akan membuka luka yang seharusnya sudah sembuh.
Selesaikan satu masalah pada satu waktu.
- Dengarkan untuk Memahami, Bukan Membalas
Saat pasangan berbicara, dengarkan sepenuhnya tanpa memotong. Terkadang seseorang hanya ingin didengar dan dipahami.
Cobalah ulangi inti perkataannya untuk memastikan kamu benar-benar mengerti sudut pandangnya. Sikap ini dapat meredakan ketegangan secara signifikan.
- Kenali Pemicu Emosi Pribadi
Setiap orang memiliki “trigger” masing-masing. Mengenali apa yang membuat kita mudah tersulut akan membantu mengantisipasi reaksi berlebihan.
Semakin kita memahami diri sendiri, semakin mudah mengontrol emosi.
- Ingat Tujuan Hubungan
Saat bertengkar, tanyakan pada diri sendiri:
Apakah aku ingin menang, atau ingin hubungan ini tetap baik?
Hubungan bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi bagaimana tetap berjalan bersama meski berbeda pendapat.
Setelah Emosi Mereda
Konflik yang sehat biasanya diakhiri dengan:
- Saling meminta maaf
- Membuat kesepakatan baru
- Berkomitmen untuk memperbaiki diri
Tidak ada pasangan yang sempurna. Yang ada hanyalah dua orang yang terus belajar memahami satu sama lain.
Penutup
Mengelola emosi saat bertengkar dengan pasangan adalah bentuk kedewasaan. Marah itu manusiawi, tetapi menyakiti bukanlah solusi. Ketika emosi dikendalikan dengan baik, konflik justru menjadi jembatan untuk saling memahami lebih dalam.
Hubungan yang kuat bukanlah hubungan tanpa pertengkaran, melainkan hubungan yang mampu bertahan dan tumbuh setelah melewati pertengkaran tersebut.





